Sabtu, 19 Juni 2010

Mengobati Penyakit Menyimpang dengan Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc


Kejahatan moral tidak bisa dianggap enteng karena akan bisa menggoncang stabilitas bangsa dan salah satu jembatan menuju masa depan di akhirat yang suram. Tidak heran jika sekarang ada orang yang mengeluhkan perilaku jelek tetangganya, seorang istri mengeluh karena dimaki suaminya, seorang ayah diperlakukan yang tidak sewajarnya oleh anaknya dan segudang keluhan.

 Merebaknya tindak kejahatan serta perbuatan asusila dengan berbagai macam ragamnya semestinya membuat kita tidak sekadar mengelus dada. Sudah saatnya kita kembali kepada ajaran agama yang benar.


Melihat dari kacamata adab Islami, banyak sekali perilaku masyarakat yang menyimpang dari jalan yang benar. Disadari atau tidak, pergeseran dari nilai-nilai agama itu sebagai akibat dari menjauhnya umat dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Sehingga mereka tidak memiliki filter untuk membedakan mana yang dari Islam dan mana yang bukan. Hal ini diperparah dengan jarangnya orang yang memiliki perhatian untuk merombak situasi yang semrawut ini. Bahkan didapati orang yang justru berkampanye untuk melestarikannya dengan berbagai dalih, di antaranya kebebasan berekspresi.
Seorang tua manakala melihat perilaku anaknya yang menyimpang, terkadang hanya menanggapi dengan bahasa dingin: “Lumrah,” atau “Dulu kita waktu masih muda juga seperti itu,” atau kalimat yang semisal. Padahal dari sinilah masa depan suatu bangsa ditentukan. Sehingga pembangunan di berbagai bidang tidak akan banyak berguna manakala mentalitas dan moralitas umat tidak dibangun. Ini merupakan tugas berat yang dipikul oleh pemerintah dan ahlul ilmi, yang menuntut langkah cepat dan tepat sebelum segala sesuatunya terlambat.
Kejahatan moral tidak bisa dianggap enteng karena akan bisa menggoncang stabilitas bangsa dan salah satu jembatan menuju masa depan di akhirat yang suram. Tidak heran jika sekarang ada orang yang mengeluhkan perilaku jelek tetangganya, seorang istri mengeluh karena dimaki suaminya, seorang ayah diperlakukan yang tidak sewajarnya oleh anaknya dan segudang keluhan. Akankah kondisi seperti ini dibiarkan berlarut-larut sehingga jumlah korban semakin bertambah?!! Atau akan ada langkah perbaikan, yang tidak akan terwujud kecuali dengan kembali kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah? Demikian pula dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bergaul di tengah-tengah masyarakatnya sehingga tercapai kehidupan yang harmonis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)
Kita akan dapatkan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keteladanan pada berbagai sisi. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa mendudukkan orang pada tempatnya masing-masing. Dari sisi hubungan dengan masyarakat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang rendah hati. Tidak membedakan yang kaya dan yang miskin. Terhadap anak kecil, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyayangi, sedangkan terhadap orang tua beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghormati. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sayang kepada manusia dan sangat sedih akan perkara yang menyusahkan mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut berbahagia bersama kebahagiaan mereka dan ikut mengentaskan derita yang dialami mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat penyabar dan tidak membalas kejahatan orang terhadap dirinya, bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memaafkan.
Di tengah-tengah keluarga, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang terbaik terhadap istri-istri dan anak-anaknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik keluarganya untuk cinta kebaikan dan amal ketaatan, sekaligus mengingkari serta menasihati berbagai perilaku yang keliru. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyia-nyiakan hak anak dan istrinya, sangat bertanggung jawab akan kewajibannya. Sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan agar memerhatikan hak mereka serta memperingatkan dengan sabdanya:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Cukup seseorang berbuat dosa manakala menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad dll, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menghasankannya dalam Shahih Al-Jami’)
Sedangkan hubungan dengan dunia luar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menjaga perjanjian yang diikat bersama mereka. Tidak berkhianat dan tetap menjunjung tinggi etika. Hal seperti ini yang menjadikan musuh salut, lalu tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tertarik dengan Islam. Inilah pelajaran yang berharga dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang sudah masuk Islam semakin cinta dengan keislamannya, dan yang kafir tertarik untuk masuk Islam. Sudahkah kita mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tentu jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Suatu hal yang sangat disayangkan, jika ada sebagian orang yang mengaku mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Salaf Shalih, namun belum tercermin dalam perilaku di tengah masyarakatnya. Bukan tidak ada, orang yang setelah mengenal kebaikan (ngaji) justru sikapnya terhadap orangtuanya berubah. Yang tadinya santun, menjadi kaku pergaulannya. Tidak mau mengucapkan salam dan menyapa kepada orang lain. Acuh tak acuh dengan lingkungannya. Sungguh sikap-sikap tersebut dan semisalnya sangat jauh dari tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus menjadikan manusia fobi dengan syariat ini.
Kalau ada yang berdalih bahwa mereka itu orang awam dan ahli maksiat sehingga kita sikapi seperti itu, jawabannya bahwa justru karena mereka awam maka seharusnya kita bimbing mereka kepada kebaikan dengan nasihat dan perilaku kita yang baik. Bukan malah menjadikan mereka buta bahkan antipati dengan agama ini. Kalau kita mau mengaca diri, kita juga mendapatkan diri kita seperti mereka yang awam sebelum mendapat petunjuk. Apakah kita tidak ingin kalau orang lain mendapat petunjuk seperti kita?! Sungguh kalau seseorang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui kita, lebih baik bagi kita daripada mendapat onta merah (di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini merupakan harta yang demikian berharga). Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk berbakti kepada orangtua? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menebarkan salam yang akan mendatangkan sikap saling cinta?! Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita dalam haditsnya:
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Dan bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR. At-Tirmidzi dll, lihat Shahih Al-Jami’ no. 97)
Janganlah keterasingan yang ada pada kita tatkala menjalankan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala ditambah dengan berbagai sikap kita, justru tidak mengundang simpati masyarakat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu telah menyebutkan (yang artinya): “Sesungguhnya ada dari kalian yang membuat orang lari dari Islam.” (HR. Al-Bukhari no. 702)
Namun hal ini bukan berarti bahwa kita larut dalam pergaulan yang batil dan sia-sia. Karena bisa dibedakan antara adab-adab syar’i dengan adat istiadat yang menyelisihi. Islam telah memberikan batasan-batasan yang jelas dalam hal ini. Kemudian hal yang penting juga, kita tidak mempertajam perbedaan pendapat di tengah masyarakat dalam perkara yang tidak menyelisihi nash Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijma’ ulama, yaitu perkara yang terdapat ruang bagi ulama untuk berijtihad dalam perkara ini. Jika kondisi menuntut adanya diskusi, bisa dilakukan tanpa harus memaksakan pendapat. Hal ini penting untuk diketahui, karena perbedaan seperti ini bukan tidak mungkin akan dijadikan alat untuk membenturkan umat satu dengan lainnya. Yang ujung-ujungnya adalah runtuhnya sendi-sendi kehidupan masyarakat. Satu dengan lainnya tidak tegur sapa, memikirkan diri sendiri, dan masa bodoh dengan yang lain. Jika seperti ini, umat sangat dirugikan dan keindahan Islam tercoreng oleh pemeluknya sendiri.
Sungguh kita semua mendambakan kehidupan yang bahagia seperti yang dijalani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya. Suatu masyarakat yang masing-masing individunya tahu tanggung jawab dan tugas yang dipikulnya. Tahu peran masing-masing untuk terwujudnya kemuliaan Islam dan muslimin. Mungkinkah harapan ini menjadi kenyataan? Semoga…
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=722

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar