Sabtu, 19 Juni 2010

TINGGINYA HAK SEORANG TAMU DALAM SYARI’AT ISLAM


Penulis: Admin


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”

Pembaca yang mulia, semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridloi-Nya dan menjaga kita dari segala kejelekan. Tamu memiliki hak yang tinggi dalam syari’at agama Islam. Menyambut, memuliakan dan menjamunya merupakan syiar Islam yang harus dijaga. Demikianlah dakwah yang diemban oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menyempurnakan akhlaq dan adab umat manusia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq (umat manusia).”

Para pembaca, semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada kita semua, syi’ar ini merupakan bukti kesempurnaan dan rahmat Islam terhadap umat manusia. Sampai-sampai dikatakan oleh shahabat Abu Dzar Al Ghifari t (artinya):

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kita dalam keadaan tiada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan pasti telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ilmunya kepada kita. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (HR. Ath Thabrani, dalam Al Kabir 2/211)

Makna perkataan shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu adalah bahwa seluruh perkara agama ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan sempurna sampai perkara yang sekecil-kecilnya. Apalagi perkara tamu, tentunya Islam merupakan agama yang terdepan dan paling sempurna dalam memuliakannya.

Anjuran Memuliakan Tamu

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”

Dari hadits di atas terdapat beberapa kandungan yang mulia, diantaranya:

1. Memuliakan Tamu merupakan bentuk kewajiban

Di dalam hadits di atas memuliakan tamu merupakan sunnah (jalan/tuntunan) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, ia merupakan perintah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang sudah sepantasnya seorang muslim yang mengaku cinta kepadanya untuk menjalankannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dan segala apa yang diperintah Rasulullah maka kerjakanlah, dan segala yang dilarang darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)

2. Penyempurna Iman

Allah subhanahu wata’ala memberitakan lewat lisan Rasul-Nya yang mulia, bahwa perkara memuliakan tamu berkaitan dengan kesempurnaan iman seseorang kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari akhir yang keduanya merupakan bagian dari rukun iman yang enam yang wajib diyakini oleh setiap pribadi muslim. Sehingga salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang bisa diketahui dari sikapnya kepada tamunya. Semakin baik ia menyambut dan menjamu tamu semakin tinggi pula nilai keimanannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan sebaliknya, manakala ia kurang perhatian (meremehkan) terhadap tamunya, maka ini pertanda kurang sempurnanya nilai keimanannya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Memuliakan Tamu adalah Akhlaq Para Nabi dan Orang-Orang Shalih

Para pembaca yang mulia, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah-kisah mulia di dalam Al Qur’an, yang demikian itu tidak lain sebagai pelajaran bagi kita semua. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)

Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamunya. Ketika Allah subhanahu wata’ala hendak mengaruniakan kepadanya seorang anak yang ‘alim yang bernama Ishaq, Allah subhanahu wata’ala mengutus para Malaikat untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada beliau ‘alaihi salam. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Nabi Ibrahim (para Malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan salam, Nabi Ibrahim menjawab: salamun, (kalian) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi yang gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Nabi Ibrahim berkata: Silahkan kalian makan…” (Adz Dzariyat: 24-27)

Dari kisah yang mulia tersebut, kita bisa memetik beberapa pelajaran yang sangat berharga, di antaranya:

1. Menjamu dan memuliakan tamu merupakan millah (agama, petunjuk) Nabi Ibrahim ‘alaihi salam

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya diperintahkan untuk mengikuti millah-nya tersebut. Sebagaimana firman-Nya (artinya): “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam); Ikutilah millah Nabi Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (An Nahl: 123)

2. Bersegera dalam menyambut dan menjamu tamu

Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihi salam, dia bersegera untuk mendatangi keluarganya (فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ) dan mempersiapkan hidangan untuk menjamu tamunya tersebut, tanpa harus menawari dulu kepada tamunya.

3. Menjawab salam dengan yang terbaik

Dalam ayat di atas juga terdapat tuntunan dalam menjawab salam, yaitu dengan yang serupa atau yang lebih baik. sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan (salam) itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An Nisa’: 86)

4. Menghidangkan kepada tamu dengan hidangan yang paling baik

Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam ketika menghidangkan daging anak sapi yang gemuk (عِجْلٍ سَمِيْنٍ) kepada para tamunya. Dan dalam ayat yang lain di dalam surat Hud dengan lafazh (عِجْلٍ حَنِيْذٍ ), yakni daging anak sapi yang dipanggang. Makanan ini (daging anak sapi yang dipanggang) merupakan makanan yang sangat lezat dan paling baik pada waktu itu.

5. Meletakkan hidangan tersebut di dekat tamunya

Allah subhanahu wata’ala menyatakan فَقَرَّبَه إِلَيْهِمْ (Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mendekatkan hidangan itu kepada mereka). Tidaklah Nabi Ibrahim meletakkan hidangan tersebut jauh dari tempat para tamunya, dan tentunya hal ini lebih memudahkan bagi para tamu untuk menikmati hidangan tersebut.

6. Menyambut/mengajak bicara dengan bahasa yang sopan dan baik

Nabi Ibrahim ‘alaihi salam mengatakan ketika menghidangkan makanannya:

أَلاَ تَأْكُلُوْنَ (Silahkan kalian makan) dan tidak mengatakan: كُلُوْا (makanlah). Menggunakan lafadz “Silahkan” atau yang semisalnya itu lebih sopan dan lebih baik pula daripada kalimat yang kedua.

Dan termasuk adab terhadap tamu adalah menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari hal-hal yang bisa memudharatkannya. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Luth ‘alaihi salam ketika datang kepada beliau para Malaikat yang menjelma sebagai tamu yang sangat tampan wajahnya. Kedatangan tamu-tamu tersebut mengundang fitnah terhadap kaum beliau ‘alaihi salam dan mereka hendak berbuat Liwath (homoseks) terhadapnya, karena kaum Nabi Luth ‘alaihi salam adalah kaum yang telah biasa melakukan kemungkaran ini (Liwath). Suatu kemungkaran yang tidak pernah dilakukan oleh seorang manusia pun di muka bumi ini sebelumnya.

Maka Nabi Luth ‘alaihi salam pun berupaya untuk menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari kekejian yang hendak dilakukan oleh kaumnya tersebut. Kisah ini bisa dilihat dalam surat Hud ayat 77-83 dan surat Al Hijr ayat 67-71.

Demikian pula praktek para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam menyambut dan menjamu tamu sangatlah patut dijadikan uswah (suri tauladan) bagi umat Islam.

Tahukah anda siapakah shahabat Anshar? Shahabat Anshar adalah para shahabat yang tinggal di negeri Madinah yang siap membela dakwah nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka pulalah orang-orang yang dijadikan Allah subhanahu wata’ala sebagai uswah dalam menyambut/menjamu tamu. Ketika para Muhajirin (para shahabat yang berhijrah/pindah dari Makkah dan yang lainnya menuju Madinah) telah sampai di kota Madinah, para shahabat Anshar berlomba-lomba untuk menyambut dan menjamu mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin daripada kebutuhan diri mereka sendiri, walaupun sebenarnya mereka sendiri pun sangat membutuhkannya. Sehingga kisah ini Allah subhanahu wata’ala abadikan di dalam Al Qur’an sebagai tanda kebersihan dan kejujuran iman para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus sebagai uswah (suri tauladan) bagi generasi sesudahnya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):

“… Dan mereka lebih mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri sangat membutuhkannya.” (Al Hasyr: 9)

Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Al Imam An Nawawi: “Menjamu dan memuliakan tamu adalah termasuk adab dalam Islam dan merupakan akhlaq para nabi dan orang-orang shalih.” (Syarh Shahih Muslim)

Beberapa Hal Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Menjamu Tamu

Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah, agama Islam menganjurkan kepada pemeluknya agar menjamu tamunya sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya adalah:

1. Anjuran untuk menjamu tamu selama tiga hari, jamuan hari pertama lebih istimewa daripada hari sesudahnya

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ . قَالُوا: وَمَا جَائِزَتُهُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: يَوْمٌ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَالِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu jaizah-nya.” Para shahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan jaizah itu, wahai Rasulullah?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jaizah itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari adapun selebihnya adalah shadaqah.” (HR. Al Bukhari no. 6135 dan Muslim no. 1726, hadits dari Abu Syuraih Al ‘Adawi, lihat Fathul Bari hadits no. 6135)

2. Menjamu tamu sesuai dengan kemampuan

Dari Sulaiman radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ r أَنْ نَتَكَلَّفَ لِلضَّيْفِ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kami memaksakan diri dalam menjamu tamu dengan sesuatu yang diluar kemampuan.” (HR. Al Bukhari, Ahmad, dan lainnya)

Akhir kata, semoga tulisan yang sederhana ini dapat memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

 http://www.assalafy.org/mahad/?p=267

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar