Tampilkan postingan dengan label Akhlaq Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2010

Menjaga Lisan dari Mengutuk atau Melaknat

Penulis: Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyah
Kata laknat yang sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia memiliki dua makna dalam bahasa Arab :
Pertama : Bermakna mencerca.
Kedua : Bermakna pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah.
Ucapan laknat ini mungkin terlalu sering kita dengar dari orang-orang di lingkungan kita dan sepertinya saling melaknat merupakan perkara yang biasa bagi sementara orang, padahal melaknat seorang Mukmin termasuk dosa besar. Tsabit bin Adl Dlahhak radhiallahu ‘anhu berkata :
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Siapa yang melaknat seorang Mukmin maka ia seperti membunuhnya.’ ” (HR. Bukhari dalam Shahihnya 10/464)

Senin, 20 Desember 2010

Ucapan "Jazaakallahu Khoiron".


Apakah yang seharusnya kita ucapkan bila mendapatkan kebaikan dari seorang muslim yang lain? Cukupkah ucapan terimakasih? Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من صنع إليه معروف فقال لفاعله: جزاك اللَّه خيراً، فقد أبلغ في الثناء

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.”

Takhrij Hadits:
Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Al Bir was Shilah (2035) dan Ath Thabrani dalam Ash Shaghir (148/2)

Syarah:

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.”

Apabila seseorang memberikan sebuah kebaikan kepadamu dengan harta, bantuan, atau ilmu atau yang selain itu, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membalas kebaikan tersebut.

Beliau juga bersabda,

“Barangsiapa yang memberikan kebaikan kepadamu maka balaslah (kebaikan tersebut)”

Maka balasan ini sesuai dengan kondisinya. Ada orang yang balasan kebaikannya dengan engkau berikan sesuatu yang sama dengan apa yang dia berikan sebelumnya, atau bahkan lebih banyak. Ada pula yang orang yang balasannya engkau mendoakan kebaikan baginya, dan dia tidak ingin engkau balas dengan harta.

Orang yang sudah tua, memiliki banyak harta, dermawan, memiliki status sosial di masyarakat, jika dia menghadiahkan sesuatu kepadamu, lalu engkau balas memberi hadiah yang sama dengan hadiah pemberiannya, maka dia akan melihat ini sebagai sikap perendahan bagi dirinya.
Akan tetapi bila terjadi yang seperti ini, berdoalah kepada Allah untuknya. Apabila kalian tidak menemukan sesuatu yang pantas untuk membalas kebaikannya, maka doakan dia sampai kalian lihat kalian telah membalasnya. Dan dari doa ini adalah ucapan kalian,


جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا
“Semoga Allah membalas kebaikanmu”

Jika dia memberikan sebuah kebaikan, manfaat kepadamu, maka ketika engkau ucapkan jazakallahu khairan engkau telah bersungguh-sungguh dalam memuji. Hal ini karena jika Allah membalas seseorang dengan kebaikan, itu merupakan kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat.

(Diterjemahkan oleh Abu Umar Urwah untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com dari Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin halaman 1564-1565, terbitan Darus Salam Kairo).

PS:
Apabila ucapan tersebut ditujukan kepada wanita, maka dhamir (kata gantinya) diubah menjadi:


جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا

“Jazakillahu khairan”

Apabila ditujukan kepada sekumpulan orang, maka gantilah dengan:


جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا

“Jazakumullahu khairan”



http://www.calgaryislam.com/imembers/Sections+index-req-viewarticle-artid-538-page-1.html

Berbaik Sangka Terhadap Istri

Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Cemburu memang perlu, bahkan harus. Namun kita mesti memosisikan sikap itu secara proporsional. Jangan sampai, karena terbakar api cemburu, terlebih hanya karena dipicu kecurigaan yang tidak beralasan, justru menyulut persoalan yang jauh lebih besar. Makanya, membangun sikap saling percaya mesti menjadi langkah awal saat memasuki kehidupan rumah tangga.

Minggu, 12 Desember 2010

Basmalah dan Keutamaannya

Basmalah, merupakan bacaan (dzikir) yang kerap kali kita lantunkan. Basmalah adalah istilah dari penyebutan Bismillah, seperti hamdalah istilah dari Al Hamdulillah dan hauqalah istilah dari lahaula wala quwwata illa billah. Ia merupakan penggalan salah satu ayat dalam surat An Naml dan sebagai ayat pertama yang membuka surat Al Fatihah. Lebih dari itu, basmalah sebagai pembuka dari seluruh surat-surat Al Qur’an kecuali surat At Taubah (Al Bara’ah), namun bukan bagian dari surat-surat tersebut kecuali pada surat Al Fatihah. Membacanya pun akan mendapat balasan (pahala) sebagaimana pahala membaca ayat-ayat yang lain dalam Al Qur’an. Setiap hurufnya Allah subhanahu wata’ala memberi pahala satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku (Nabi Muhammad) tidaklah mengatakan Alif Laam Miim adalah satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (H.R. At Tirmidzi no. 2910, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)
Tuntunan Memulai Amalan Dengan Basmalah

Sabtu, 27 November 2010

Nasehat Untuk Remaja Muslim

Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.
Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allahsubhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?

Rabu, 03 November 2010

Hikmah Ilahi Di Balik Musibah Gempa Bumi Dan Tsunami

Hikmah Ilahi di Balik Musibah Gempa Bumi dan Tsunami


Orang-orang berbeda pendapat dalam (menjelaskan penyebab terjadinya) gempa. Ada yang mengatakan bahwa gempa merupakan peristiwa yang bersifat alami, tidak ada kaitannya dengan agama. Sebagian lainnya mengatakan bahwa gempa merupakan ketentuan dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak ada kaitannya dengan dosa. Ada lagi yang mengatakan bahwa gempa merupakan kejadian untuk membuat takut manusia dan tiada kaitannya dengan dosa. Sebagian lagi mengatakan bahwa gempa terjadi disebabkan oleh dosa manusia.
Jawabannya, –Allah Subhanahu wa Ta'ala lah yang memberikan taufiq untuk kebaikan dan kebenaran– sesungguhnya gempa itu untuk menciptakan rasa takut (mengingatkan supaya sadar dan kembali kepada agama, pent) dan ia (terjadi) dengan qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta'ala. Gempa juga terjadi disebabkan dosa-dosa manusia. Dengan demikian, terjadinya gempa adalah untuk membuat takut manusia yang (masih) hidup yang menyaksikan kejadian itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

Rabu, 20 Oktober 2010

Tuntunan Islam Dalam Menasehati Penguasa (Sebuah Renungan Bagi Para Pencela Pemerintah)

Penulis: Al Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray
Telah dimaklumi bersama bahwa merubah kemungkaran dan menasihati pelakunya adalah kewajiban setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-:

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)

Akan tetapi, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami bahwa untuk merubah kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah muslim tidak sama dengan merubah kemungkaran yang dilakukan oleh selainnya. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran yang dilakukan penguasa dijadikan sebagai komoditi untuk meraih keuntungan oleh sebagian media massa. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tak ketinggalan pula para “aktivis Islam” atau “aktivis dakwah” melakukan “aksi damai” yang menurut mereka itulah demo Islami, sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban.

Adab-adab Berkendaraan

Melihat perkembangan zaman yang sangat pesat, maka nikmat Allah yang diberikan kepada manusia begitu banyak sehingga mereka pun bisa membuat berbagai macam dan ragam kendaraan. Dahulu mereka cuma mengendarai binatang-binatang berupa keledai, kuda, dan lainnya. Kemudian mereka wujudkan semua itu dalam bentuk kendaraan yang lebih bagus, lebih kuat, lebih indah dan lebih cepat dengan adanya sepeda, motor, mobil, pesawat, dan lainnya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya". (QS. An-Nahl: 8).
Dengan adanya berbagai macam nikmat tersebut, hendaklah kita -sebagai orang-orang yang beriman-, senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Bukan hanya mengingat bagaimana nikmatnya naik kendaraan, cepatnya sampai ke tujuan, dan bukan pula karena bagusnya kendaraan tersebut. Bahkan seyogyanya kita mengingat dan mensyukuri nikmat tersebut.

Jumat, 08 Oktober 2010

Adab Makan Dan Minum


Islam adalah dien rahmat bagi semesta alam. Dien yang menjelaskan segala bentuk kemaslahatan (kebaikan) bagi manusia, mulai dari masalah yang paling kecil dan ringan hingga masalah yang paling besar dan berat. Demikianlah kesempurnaan Islam yang hujjahnya sangat jelas dan terang, malamnya bagaikan siang. Sehingga tidak ada satupun permasalahan yang tersisa melainkan telah dijelaskan didalamnya. Termasuk dari keindahan dan kesempurnaan agama Islam adalah adanya aturan-aturan dan adab ketika makan dan minum. Bagaimanakah agama Islam nan sempurna ini mengaturnya?. Pada edisi kali ini kami sajikan pembahasannya secara ringkas sebagai berikut:

Kamis, 07 Oktober 2010

Basmalah Dan Keutamaannya


Basmalah, merupakan bacaan (dzikir) yang kerap kali kita lantunkan. Basmalah adalah istilah dari penyebutan Bismillah, seperti hamdalah istilah dari Al Hamdulillah dan hauqalah istilah dari lahaula wala quwwata illa billah. Ia merupakan penggalan salah satu ayat dalam surat An Naml dan sebagai ayat pertama yang membuka surat Al Fatihah. Lebih dari itu, basmalah sebagai pembuka dari seluruh surat-surat Al Qur’an kecuali surat At Taubah (Al Bara’ah), namun bukan bagian dari surat-surat tersebut kecuali pada surat Al Fatihah. Membacanya pun akan mendapat balasan (pahala) sebagaimana pahala membaca ayat-ayat yang lain dalam Al Qur’an. Setiap hurufnya Allah subhanahu wata’ala memberi pahala satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku (Nabi Muhammad) tidaklah mengatakan Alif Laam Miim adalah satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (H.R. At Tirmidzi no. 2910, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Selasa, 07 September 2010

Petunjuk Para Ulama Salaf Dalam Berhari Raya

Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari raya maka beliau menjawab [Majmu Al-Fatawa 24/253] : "Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Id : Taqabbalallahu minnaa wa minkum. (yang artinya) : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian" Wa ahaalallahu 'alaika. 

Sabtu, 07 Agustus 2010

Al Qur'an Bukan Untuk Hiasan Atau Ukiran

Penulis: Al-Ustadz Abdul Fattah


Banyak sekarang kita dapati di rumah – rumah kaum muslimin , di masjid – masjid ataupun dimajelis – majelis ukiran – ukiran atau kaligrafi – kaligrafi yang bertuliskan ayat –ayat Al Qur`an dan hadits – hadits nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ataupun Asmaul Husna yang digantungkan padanya . Pemandangan semacam ini bukanlah hal yang asing lagi ditengah –tengah kaum muslimin , wallahu a`lam apa tujuan mereka melakukan hal tersebut . Mungkin mereka menganggap yang demikian itu merupakan bentuk ibadah ataukah tujuannya untuk sebagai hiasan saja atau untuk menolak bahaya atau sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap ayat –ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ataupun untuk mencari barakah dan yang lainya .

Selasa, 06 Juli 2010

ADAB BERKENDARAAN DAN BERJALAN




Oleh Abu Muawiah 
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Dialah Dzat yang telah menciptakan segala sesuatu bagi kalian slaing berpasang-pasangan, da menjadikan bagi kalian apa yang kalian kapal, binatang ternak dan tunggangan yang kalian kendarai. Agar kalian duduk diatas punggungnya kemudian kalian mengingat nikmat Rabb kalian apabila kalian telah brada diatasnya, dan kalian mengucapkan: Subhanallahi alladzii sakhkhara lanaa hadzaa wa maa kunnaa lahu muqribiin wa innaa ilaa Rabbinaa lamunqalibuun – Maha Suci Rabb kami yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak sanggup untuk menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.” ( Az-Zukhruf : 12-13 ).

Antara Tradisi dan Akhlak Islami

Oleh Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc
Seiring dengan jauhnya umat dari ajaran yang benar, membuat syariat Islam acap terkacaukan dengan tradisi yang berkembang di masyarakat, lebih-lebih ritual yang menggunakan simbol-simbol Islam.

Manusia secara umum sekalipun orang yang bersih fitrahnya, sangat membutuhkan penjelasan tentang akhlak dan adab yang sesuai syariat melalui dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Sehingga pernyataan sebagian orang bahwa permasalahan adab tidak perlu menengok kepada dalil syar’i sangat keliru dengan dua alasan:

Sabtu, 19 Juni 2010

Sebarkan Salam


Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah


Bila salam terucap dari seorang lelaki kepada lelaki lain atau antara sesama wanita, atau lelaki kepada wanita yang merupakan mahramnya dan sebaliknya wanita mengucapkan salam kepada lelaki dari kalangan mahramnya, tidaklah menjadi permasalahan. Bahkan mereka dihasung untuk mengamalkan dua hadits di atas. Yang menjadi tanya adalah: bolehkah laki-laki mengucapkan salam kepada wanita ajnabiyyah (bukan mahramnya) dan sebaliknya?

TINGGINYA HAK SEORANG TAMU DALAM SYARI’AT ISLAM


Penulis: Admin


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al Imam Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”

Berhias dengan Akhlak Mulia, Bagian dari Prinsip Beragama




Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc


Ahlus Sunnah wal Jamaah, adalah orang-orang yang berusaha meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupan ini. Kehidupan mereka pun diliputi cahaya ilmu dan dihiasi akhlak mulia. Sebagaimana tercermin dalam nasihat Al-Imam Muhammad bin Sirin, Al-Imam Malik, dan yang lainnya dari ulama salaf rahimahumullah: “Ilmu (hadits) ini adalah bagian dari agama, maka lihatlah (selektiflah) dari siapakah agama itu kalian dapatkan. Tidaklah cukup (bagi seseorang) berbekal ilmu yang banyak (dalam bidang yang digelutinya, pen.).

Bila menelisik perjalanan sejarah umat manusia di masa jahiliah, niscaya akan didapati potret kehidupan yang multikrisis. Sebuah tatanan kehidupan di mana umat manusianya dirundung kegalauan spiritual dan kepincangan intelektual.

PENAMPILAN ITU ADALAH SYI’AR ISLAM, BUKAN CIRI-CIRI TERORIS!!



Penulis: Al-Ustadz Abu ‘Amr Ahmad


Sungguh musibah telah menimpa kaum muslimin. Setelah kaum teroris - khawarij mencoreng Islam dan kaum muslimin, mencemarkan nama harum jihad, mereka juga mencemarkan syiar-syiar Islam. Sebagian kaum teroris - khawarij tersebut ternyata menampakkan atribut-atribut Islami di atas, bahkan mereka jadikan atribut Islami tersebut sebagai sarana untuk penyamaran dan melarikan diri!!
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan syari’at Islam dengan sempurna dan meliputi segala hal, berlaku untuk semua zaman, semua tempat, dan dalam semua kondisi. Baik dalam bidang aqidah, ibadah, akhlaq sopan santun, cara berpenampilan dan berpakaian, cara bermuamalah antar sesama, dan banyak lagi. Semuanya telah lengkap dan sempurna.