Kamis, 21 Oktober 2010

ADAB BERPAKAIAN & BERHIAS (iii) : Hukum Pakaian bersalib, bergambar, warna putih dan merah

ADAB BERPAKAIAN DAN BERHIAS

Penulis Al-Ustadz Abu Muawiyah

Di antara permasalahan yang dibahas dalam bab ini adalah:
6. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada Padanya tanda salib atau Gambar bernyawa.
7. Apakah sah shalat orang yang shalat dengan pakaian yang ada padanya gambar-gambar atau salib?
8. Beberapa Sunnah Dalam Memakai Sandal.
9. Sunnahnya Memakai Pakaian Putih.
10. Hukum memakai pakaian berwarna merah.
Penjelasan :

ADAB BERPAKAIN DAN BERHIAS

ADAB BERPAKAIN DAN BERHIAS

Penulis Al-Ustadz Abu Muawiyah

Di antara permasalahan yang dibahas dalam bab ini adalah:
2. Haramnya Laki-laki Menyerupai Wanita Dan Wanita Menyerupai Laki-laki.
3. Haramnya isbal (Menyeret Kain sampai di bawah mata kaki).
4. Haramnya Pakaian Syuhroh (agar menjadi terkenal karena pakaian tersebut) dan apa yang dimaksud dengannya.
5. Haramnya Emas Dan kain Sutra bagi Laki-laki Kecuali Ada Udzur.
Penjelasan :

Adab Berpakaian Dan Berhias

Penulis Al-Ustadz Abu Muawiyah
Di antara permasalahan yang dibahas dalam bab ini adalah:
1. Apakah Paha laki-laki Adalah Aurat?
2. Haramnya Laki-laki Menyerupai Wanita Dan Wanita Menyerupai Laki-laki.
3. Haramnya isbal (Menyeret Kain sampai di bawah mata kaki).
4. Haramnya Pakaian Syuhroh (agar menjadi terkenal karena pakaian tersebut) dan apa yang dimaksud dengannya.
5. Haramnya Emas Dan kain Sutra bagi Laki-laki Kecuali Ada Udzur.
6. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada Padanya tanda salib atau Gambar bernyawa.
7. Apakah sah shalat orang yang shalat dengan pakaian yang ada padanya gambar-gambar atau salib?
8. Beberapa Sunnah Dalam Memakai Sandal.
9. Sunnahnya Memakai Pakaian Putih.
10. Hukum memakai pakaian berwarna merah.
11. Hukum memakai cincin bagi lelaki.
12. Beberapa sunnah dalam bersisir dan mencukur rambut.
13. Haramnya qaza’ dalam mencukur rambut.
14. Sunnah Merubah Warna Uban Dengan Selain Warna Hitam.
15. Perhiasan Apa Saja Yang Haram Atas Wanita?
16. Haramnya menyambung rambut, mentato, menyambung rambut dan mengukir gigi untuk terlihat bagus.

Rabu, 20 Oktober 2010

Tuntunan Islam Dalam Menasehati Penguasa (Sebuah Renungan Bagi Para Pencela Pemerintah)

Penulis: Al Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray
Telah dimaklumi bersama bahwa merubah kemungkaran dan menasihati pelakunya adalah kewajiban setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-:

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)

Akan tetapi, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami bahwa untuk merubah kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah muslim tidak sama dengan merubah kemungkaran yang dilakukan oleh selainnya. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran yang dilakukan penguasa dijadikan sebagai komoditi untuk meraih keuntungan oleh sebagian media massa. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tak ketinggalan pula para “aktivis Islam” atau “aktivis dakwah” melakukan “aksi damai” yang menurut mereka itulah demo Islami, sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban.

Adab-adab Berkendaraan

Melihat perkembangan zaman yang sangat pesat, maka nikmat Allah yang diberikan kepada manusia begitu banyak sehingga mereka pun bisa membuat berbagai macam dan ragam kendaraan. Dahulu mereka cuma mengendarai binatang-binatang berupa keledai, kuda, dan lainnya. Kemudian mereka wujudkan semua itu dalam bentuk kendaraan yang lebih bagus, lebih kuat, lebih indah dan lebih cepat dengan adanya sepeda, motor, mobil, pesawat, dan lainnya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya". (QS. An-Nahl: 8).
Dengan adanya berbagai macam nikmat tersebut, hendaklah kita -sebagai orang-orang yang beriman-, senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Bukan hanya mengingat bagaimana nikmatnya naik kendaraan, cepatnya sampai ke tujuan, dan bukan pula karena bagusnya kendaraan tersebut. Bahkan seyogyanya kita mengingat dan mensyukuri nikmat tersebut.

Jumat, 08 Oktober 2010

Adab Makan Dan Minum


Islam adalah dien rahmat bagi semesta alam. Dien yang menjelaskan segala bentuk kemaslahatan (kebaikan) bagi manusia, mulai dari masalah yang paling kecil dan ringan hingga masalah yang paling besar dan berat. Demikianlah kesempurnaan Islam yang hujjahnya sangat jelas dan terang, malamnya bagaikan siang. Sehingga tidak ada satupun permasalahan yang tersisa melainkan telah dijelaskan didalamnya. Termasuk dari keindahan dan kesempurnaan agama Islam adalah adanya aturan-aturan dan adab ketika makan dan minum. Bagaimanakah agama Islam nan sempurna ini mengaturnya?. Pada edisi kali ini kami sajikan pembahasannya secara ringkas sebagai berikut:

Peduli Tetangga, Washilah Meraih Jannah


Fenomena kehidupan bertetangga selalu berubah seiring dengan bergulirnya zaman. Dewasa ini, suasana sosial yang sesuai kaidah syariat Islam semakin susah didapatkan, apalagi hidup di lingkungan kota. Pada umumnya manusia cenderung dan asyik dengan kepentingannya masing-masing.
Di pagi hari, masing-masing pihak persiapan untuk menuju tempat aktivitasnya, kemudian pulang di waktu sore harinya. Begitulah seterusnya, tak terasa masing-masing pihak saling menutup diri, saling tidak mengenal, yang pada akhirnya melahirkan sikap individualisme “acuh” terhadap kondisi tetangganya. Tak jarang, ada tetangga yang sakit parah untuk segera dirawat di rumah sakit, tapi karena kurang kepedulian dari tetangga, akhirnya orang tersebut meninggal (disamping Qadha’ dan Qadar Allah). Juga, kita melihat banyak anak kecil yang terlantar, mereka dengan terpaksa untuk memenuhi kebutuhannya harus minta-minta “ngencleng” dipinggir jalan, lalu dikemanakan nasib pendidikan mereka? Kemana mereka harus mengadu? 

Kamis, 07 Oktober 2010

Kedudukan Dan Keutamaan Sabar


Para pembaca yang mulia –semoga Allah subhanahu wata’la merahmati kita semua–, pada edisi sebelumnya telah diutarakan bahwa ujian dan cobaan di dunia merupakan sebuah keharusan yang (siapa pun) tidak bisa terlepas darinya. Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan merupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman seseorang kepada Allah subhanahu wata’la.

Basmalah Dan Keutamaannya


Basmalah, merupakan bacaan (dzikir) yang kerap kali kita lantunkan. Basmalah adalah istilah dari penyebutan Bismillah, seperti hamdalah istilah dari Al Hamdulillah dan hauqalah istilah dari lahaula wala quwwata illa billah. Ia merupakan penggalan salah satu ayat dalam surat An Naml dan sebagai ayat pertama yang membuka surat Al Fatihah. Lebih dari itu, basmalah sebagai pembuka dari seluruh surat-surat Al Qur’an kecuali surat At Taubah (Al Bara’ah), namun bukan bagian dari surat-surat tersebut kecuali pada surat Al Fatihah. Membacanya pun akan mendapat balasan (pahala) sebagaimana pahala membaca ayat-ayat yang lain dalam Al Qur’an. Setiap hurufnya Allah subhanahu wata’ala memberi pahala satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku (Nabi Muhammad) tidaklah mengatakan Alif Laam Miim adalah satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (H.R. At Tirmidzi no. 2910, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Bertutur Yang Baik dan Berwajah Yang Manis


Buletin Islam AL ILMU Edisi: 5/I/VIII/1431
Sekedar menampakkan yang berseri-seri serta bertutur yang baik sesungguhnya merupakan perkara ringan. Namun demikian, bagi sebagian besar kita hal itu seolah demikian berkat untuk diperhatikan. Yang memprihatinkan, gejala yang menimpa sebagian para penuntut ilmu agama di mana sikap mereka demikian kaku terhadap orang-orang awam.
Berjumpa dengan orang lain adalah perkara yang biasa dalam keseharian kita sebagai makhluk sosial. Karena tak mungkin kita hidup menyendiri dari orang lain.Kita butuh saudara, butuh teman, dan kita butuh orang lain. Yang tak biasa alias luar biasa, bila kita dapat mengamalkan tuntunan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kala berjumpa dan berkata. Kenapa demikian? Karena di zaman kita sekarang, adad-adad islam sudah banyak di tinggalkan oleh kaum muslimin. Mungkin karena kebodohan ataupun ketidak pedulian mereka.